IMMI Finland

Ikatan Masyarakat Muslim Indonesia

← Kembali ke daftar Kulwap

Kulwap #1: Sya’ban, Bulan Mulia yang Dicintai Rasulullah Yang Sering Terlupakan

Kulwap Sya’ban

Tanpa terasa, hari ini kita sudah hampir memeasuki pertengahan bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban). Mungkin begitu gampang saat kita ditanya tentang keistimewaan bulan sebelumnya: Rajab, tentu kita dengan mudah mengingatnya sebab ada peringatan Isra’ Mi’raj, di mana Rasulullah SAW menerima perintah Shalat. Terlebih lagi bulan sesudahnya: Ramadhan, kita juga bisa jauh lebih mudah mengingat karena di bulan tersebut kita akan berpuasa dan merupakan bulan turunnya Al-Quran. Namun, saat ditanya tentang bulan Sya’ban? Kita mungkin barangkali belum sadar, bahwa bulan ini adalah salah satu bulan yang dicintai Rasulullah.

Secara lughowi, dinamakan Sya’baan, di ambil dari kata Sya’bun yang artinya kelompok atau golongan, karena dulu orang Arab pada bulan tersebut berpencar-pencar (yatasyaa’ab) untuk mencari sumber air. Mereka juga berpisah atau perbpencar (tasyaa’ab) di gua-gua. Di katakan pula karena sya’ban itu sya’ab yang artinya “muncul” di antara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan.

Kembali lagi ke ulasan di atas tentang mengapa bulan Sya’ban begitu mulia, maka coba kita lihat hadis yang perawi-nya Aisyah r.a. berikut ini:

“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Demikian pula pada hadist yang pernah disampaikan oleh Usamah bin Zaid. Beliau pernah menanyakan, kenapa Rasulullah SAW begitu bersemangat di Bulan Sya’ban, dan Rasulullah SAW pun menjawabnya melalui sabda beliau:

“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359.)

Terlebih lagi, tepat malam ini, 1 Februari 2026 akan bertepatan dengan malam nisfu sya’ban, maka sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Apabila sampai malam Nishfu Sya’ban, maka Allah melihat kepada para hamba-Nya di lalu mengampuni orang-orang yang beriman.” (HR. Ibnu Majah (no. 1390)

Maka nanti malam, adalah kesempatan kita untuk banyak beribadah. Terlebih sekarang di Finlandia, masih musim dingin dan malam yang jauh lebih panjang, dengan subuh masih sekitar jam 6 pagi, jadi kita bisa memanfaatkan malam yang panjang ini setidaknya 1-2 jam sebelum subuh untuk melakukan Qiyamu Lail.

Demikian pula khusus untuk yang perempuan, Bulan Sya’ban adalah barangkali waktu yang tepat untuk meng-qodho puasa Ramadhan. Sebagaimana yang pernah dikatakan Aisyah r.a.:

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Selain itu, mumpung sekarang juga waktu puasa masih cukup singkat dibanding di Indonesia, maka ini juga menjadi sebuah kenikmatan yang diberikan oleh Allah bagi kita yang tinggal di Finlandia, ditambah juga cuaca yang tidak panas (yang membuat tidak mudah haus). Maka ini adalah kesempatan yang tak semua orang bisa memilki.

Kemudian, jika ditanya tentang peristiwa besar pada bulan Sya’ban, sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya yang berjudul Ma Dza fi Sya'ban dijelaskan bahwa perintah bershalawat datang pada bulan ini. Barangkali banyak di antara kita lupa atau belum mengetahui hal ini.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 5-6)

Dari ayat tersebut, kita bisa mengambil hikmah bahwa sebagaimana yang ditafsirkan para ulama’, bahwa shalawat adalah ibadah yang begitu utama. Bayangkan saja, Allah memerintahkan kita semua melakukan ibadah lain, seperti puasa, zakat, shalat, hingga haji, namun Allah tidak melakukannya. Sementara dalam ayat tersebut, terlihat jelas redaksinyainya bahwa sebelum Allah memerintahkan kita semua yang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad, Allah dan malaikatNya sudah bershalawat terlebih dahulu.

Jadi, sebelum Bulan Sya’ban ini iberakhir, di mana catatan amal kita akan diangkat oleh Allah, mari kita torehkan banyak ibadah dan kebaikan di bulan ini. Perbanyak shalat, berpuasa, bersedekah, dan juga berzakat. Semoga Allah mengangkat amalan kita di bulan ini dalam kondisi kita yang sebaik-baik seorang hamba.

Wallahu a’lam bisshowaab.

-Divisi Dakwah IMMI, dikelola dari berbagai sumber-